Just another WordPress.com site

Awas jakarta didatangi kaum urban

sumber google

Dua hari masuk kerja dari tanggal 15 september 2010 jalan-jalan masih kelihatan lenggang, entah beberapa hari kedepan mungkin jakarta sudah padat dan macet kembali tentunya dan berakibat  jalan-jalan menjadi sumpeg dan ramai oleh para pengendara. yah beginilah nasib kaum komuter seperti saya yang tinggal di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang Dan Bekasi) dan saya termasuk orang yang tinggal disalah satu daerah tersebut tepatnya di daerah depok, yang betrkantor di Jakarta, tentunya setiap hari berkutat dengan kemacetan yang ada di Jakarta.

Beberapa hari yang lalu lebaran sudah lewat, sejenak jakarta di tinggal oleh penghuninya untuk berleberan di kampung halamannya masing-masing alias mudik, sudah tradisi memang setiap tahun jakarta ditinggalkan oleh warganya untuk berlebaran di kampungnya masing-masing sehingga jakarta terasa nyaman dan damai, tapi beberpa hari kedepan dan puncaknya hari minggu dan sabtu kemungkinan akan terjadi lonjakan arus balik dari daerah menuju jakarta yang akan di datangi kaum urban, dan pada hari seninnya Jakarta mulai penuh, sesak, dan macet lagi seperti hari-hari biasanya karena semua orang sudah mulai beraktifitas kembali dengan aktifitas dan kegiatanya masing-masing.

Dan setiap tahun penduduk Jakarta akan bertambah dengan sangat signifikan dimana setiap sehabis mudik mereka mengajak salah satu atau beberapa anggota keluarganya ke Jakarta untuk mengadu nasib di Ibu Kota tercinta ini, mengapa mereka di ajak atau mengikuti saudaranya yang sudah lebih dahulu di Jakarta ? inilah pertanyaan yang sering kali muncul dibenak saya, mungkin mereka melihat saudaranya yang mudik dengan bergemilangan kemewahan dimana setiap mudik atau pulang kampung tanpa sadar mereka pamer terhadap sanak saudaranya yang ada di kampung, dimana setiap mudik tentunya mereka akan membawa bawaaan yang serba mewah karena gengsi pada saudaranya yang berada dikampung seperti membawa kendaraan mobil atau motor dan dengan penampilan yang perlente seperti memakai perhiasan, belum lagi mereka royal terhadap sudara-saudaranya yang ada di kampung sehingga terkesan sukses hidup di Jakarta, sehingga membuat mereka iri untuk mengadu nasib di Jakarta dan akhirnya mereka berbondong-bondong untuk ikut dan akan mengadu nasib di jakarta,  saya rasa itu perkiraan saya entahlah, perkiraan teman-teman bloger.

Untuk menghadapi situasi ini tentunya pemda jakarta sudah mengantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya seperti menghimbau warganya agar jangan mengajak saudaranya ke jakarta atau berkolaborasi dengan pemerintah pusat dimana pemerintah pusat harus memeratakan perekonomian nasional sehingga tidak selalu bertumpu atau berpusat di Ibu Kota, dan mudah-mudahan banyak kaum urban yang berpikir dua kali untuk  mendatangi ibu kota.

Iklan

8 responses

  1. hm hmm.. iya ya, bisa jadi orang-orang kampung tergiur mengadu nasib ke Jakarta. mending kalo akhirnya sukses, tapi kalo akhirnya malah bikin rumah kumuh yaaa gimana ya.. 😦

    September 16, 2010 pukul 11:47 am

    • Betul non, dengan semakin banyaknya kaum urban datang ke Ibu Kota tentunya, Jakarta bertambah sumpeg dan kumuh

      September 17, 2010 pukul 2:32 am

  2. Feddy

    Siipp mas.. Lanjutkan!!!!!!

    September 17, 2010 pukul 8:49 am

    • sip lanjutkan mas

      September 17, 2010 pukul 8:57 am

  3. masih banyak yg berfikir , kemilau ibu kota mudah didapatkan tanpa ada skill utk bertahan hidup ya Raja
    salam

    September 21, 2010 pukul 7:32 am

    • Betul bunda itu karena, kurangnya pemerataan ekonomi di Indonesia…
      salam kenal juga

      September 22, 2010 pukul 4:42 am

  4. Walau bagaimana pun Jkarta tetap menjadi magnet untuk memperbaiki kehidupan karena 60 % uang di Indonesia beredar di kawasan Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek 🙂

    September 22, 2010 pukul 12:18 am

    • Setuju gan, tapi mesti dipikikirkan juga tuh masalah-masalah yang lain seperti masalah kependudukan

      September 22, 2010 pukul 4:34 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s